Di Antara Layar dan Sunyi
Aku berdiri di depan kelas,
namun mataku bertemu layar, bukan wajah.
Jari-jari lincah menari di dunia maya,
sementara suaraku bersaing dengan notifikasi yang tak pernah lelah.
Aku guru di zaman cepat,
di era sentuh dan geser.
Ilmu tak lagi dicari,
ia menunggu dipanggil oleh sinyal dan baterai.
Generasi Gen Z,
kalian cerdas, berani, penuh ide,
namun sering lupa
bahwa makna tak selalu bisa diunduh.
Aku mengajar bukan hanya rumus dan kata,
tapi juga sabar, hormat, dan rasa.
Sayangnya, itu tak punya tombol “skip”,
tak bisa dipercepat seperti video pendek.
Di balik senyumku ada lelah yang kusembunyikan,
tugas menumpuk, tuntutan berlapis.
Aku harus modern tanpa kehilangan nurani,
harus tegas tanpa mematikan mimpi.
Kadang aku bertanya dalam diam,
masihkah guru dibutuhkan
saat mesin menjawab segalanya?
Atau aku hanya pengingat yang perlahan dilupakan?
Namun setiap pagi aku tetap datang,
membawa harap meski sering patah.
Sebab di antara algoritma dan tren sesaat,
aku percaya sentuhan manusia tetap bermakna.
Aku guru,
yang bertahan di tengah perubahan,
mengajar di antara cahaya layar
dan sunyi yang tak pernah terlihat.
Karya Cheko Pita