Selamat Pagi,Duniaku
Saat fajar mengetuk pelan jendela harapan,
aku terjaga dalam sunyi yang menggantung.
Pagi masih setia menyimpan dinginnya,
namun asa tetap menyala di dada—
tak pernah redup, tak pernah lelah.
Air bening menyentuh wajah,
sedingin rindu yang belum sempat terucap.
Waktu berdetak lirih namun pasti—
tik… tak… tik… tak…
mengiringi langkah yang mulai tergesa.
“Ya Tuhan… waktu tak menunggu.”
Di atas motor yang melaju membelah jalan,
angin pagi menyapa wajah yang sedikit cemas.
Sementara pikiranku tertinggal di rumah—
pada anak-anakku
yang masih terbuai hangatnya selimut
dan doa yang belum sempat kupeluk lama.
Hingga akhirnya,
aku tiba di tempat pengabdian.
Tempat sederhana,
namun penuh makna kehidupan.
Kubawa salam bersama senyum yang kupaksakan tenang.
Dan seketika…
lelahku luruh.
Senyuman-senyuman kecil itu menyambutku—
bening, tulus,
seindah cahaya malaikat kecil tanpa sayap.
Mereka memanggilku dengan riang,
menyapaku dengan harapan.
Di sanalah aku sadar—
di sinilah duniaku berada.
Selamat pagi, duniaku.
#Nurnaningsih, S.Pd